Lewati ke konten utama

Biomimikri Desain: Membawa Filosofi dari Alam ke Kamar Mandi

Biomimikri Desain: Membawa Filosofi dari Alam ke Kamar Mandi
Apakah pernah memperhatikan air hujan yang jatuh di atas daun talas? Airnya mengumpul menjadi bulatan kecil, lalu meluncur turun tanpa meninggalkan bekas. Daun itu tidak pernah perlu dilap, dan bentuknya sudah diatur alam jauh sebelum manusia mengenal kata desain.

Kebiasaan mengamati lalu menerapkan cara kerja alam seperti itu ternyata punya nama, yaitu biomimikri. Istilahnya berasal dari dua kata Yunani, bios yang berarti kehidupan dan mimesis yang berarti mencontoh. Intinya sederhana. Alam sudah menghabiskan jutaan tahun mencari bentuk yang paling hemat tenaga, dan manusia tinggal belajar dari hasilnya.

Contohnya sebenarnya dekat dengan keseharian. Cat pelapis yang membuat dinding tidak gampang kotor sama dengan permukaan daun teratai yang menolak air. Moncong kereta cepat di Jepang dibentuk menyerupai paruh burung raja udang supaya melaju lebih tenang saat masuk terowongan. Polanya sama, yaitu mengimplementasikan sesuatu yang sudah terbukti bekerja.

Belakangan pendekatan ini makin sering dipakai karena satu alasan yang cukup serius, yaitu air. Laporan Global Forest Review dari World Resources Institute mencatat dunia kehilangan lebih dari 517 juta hektare tutupan pohon sejak tahun 2000. Ketika hutan berkurang, daerah yang menyimpan air ikut rusak, tanah lebih cepat kering, dan air bersih menjadi lebih sulit didapat. Akibatnya terasa sampai ke keran di rumah.

Membawa konsep biomimikri ke dalam rumah

Jika prinsip alam dapat diterapkan pada berbagai teknologi, konsep yang sama juga dapat dibawa lebih dekat ke kehidupan sehari-hari, termasuk ke dalam rumah.

Di rumah, ruangan yang paling banyak memakai air adalah kamar mandi. Perubahan kecil di ruangan ini berpengaruh cukup besar, baik pada tagihan air maupun pada lingkungan. Hampir setiap hari, ruangan ini digunakan untuk berbagai aktivitas yang membutuhkan air.

Karena itu, bagaimana air mengalir, bagaimana permukaan merespons air, hingga bagaimana penggunaan air dapat dibuat lebih efisien menjadi bagian penting dalam merancang kamar mandi.

Pertanyaannya, bagaimana prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan ke dalam ruang yang kita gunakan setiap hari?

Jawabannya bisa dimulai dari berbagai elemen yang ada di kamar mandi. Bukan hanya toilet, tetapi juga wastafel, keran, dan shower. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, tetapi semuanya berhubungan dengan satu hal yang sama: bagaimana manusia berinteraksi dengan air.

Dari sinilah pendekatan biomimikri menjadi semakin relevan. Prinsip yang dipelajari dari alam dapat diterjemahkan ke dalam bentuk, aliran, fungsi, hingga pengalaman penggunaan sehingga kamar mandi tidak hanya terlihat menarik, tetapi juga terasa lebih selaras dengan kebutuhan penggunanya.

Salah satu contohnya dapat ditemukan pada koleksi TERA dari TOTO Indonesia, yang menghadirkan desain dengan sentuhan bentuk organik secara menyeluruh pada berbagai perangkat kamar mandi, mulai dari kloset, wastafel, keran, hingga shower. Keselarasan desain ini membuat setiap elemen terasa menyatu, sekaligus memberikan kesan kamar mandi yang modern dan nyaman.

Tak hanya tampil modern, TERA juga dirancang untuk penggunaan air yang lebih efisien. Klosetnya memiliki pilihan siraman 4,5 liter dan 3 liter, sehingga keluarga beranggotakan empat orang berpotensi menghemat lebih dari 40.000 liter air per tahun tanpa mengubah kebiasaan sehari-hari.

Prinsip yang sama muncul dalam bentuk berbeda pada perangkat lainnya. Badan keran dibuat melengkung supaya air jatuh dengan tenang, tidak memercik ke sekeliling wastafel. Wastafelnya sendiri berbentuk menyerupai daun, melebar di tengah dan membentuk lengkungan lembut di ujungnya, yang membantu mengalirkan air secara alami. Sementara kepala showernya dirancang untuk memberikan jangkauan optimal dengan aliran air yang tetap terasa lembut dan alami.

Warna Bumi untuk Perangkat yang Berbeda

Pilihan warnanya juga diambil dari warna yang biasa ditemui di alam, dan tiap jenis perangkat punya karakternya sendiri. Untuk kloset dan wastafel, tersedia Forest Green yang mengambil warna hutan tropis, di samping putih dan 9 warna lainnya. Untuk keran dan shower, ada Polished Gold yang memberi kesan hangat, melengkapi krom dan 14 warna lainnya. Dipadukan dengan material batu alam atau kayu, kamar mandi rumah bisa terasa lebih teduh dan hangat, mendekati suasana kamar mandi villa yang menenangkan.

Jika saat ini Anda sedang merencanakan renovasi, ada tiga hal sederhana yang bisa dijadikan pegangan. Perhatikan bentuknya, karena permukaan yang membulat dan tanpa sudut mati jauh lebih ringan dibersihkan. Tanyakan berapa liter air yang keluar sekali siram, karena angka itu menentukan tagihan bulanan. Terakhir, cocokkan warnanya dengan keramik dan lantai yang sudah ada supaya ruangan terasa menyatu.

Menariknya, menerapkan alam tidak selalu berarti teknologi rumit. Kadang cukup mengembalikan bentuk yang sudah bekerja baik selama jutaan tahun, lalu membiarkannya bekerja juga di rumah kita. Bentuk, ukuran, dan pilihan warnanya bisa dilihat langsung pada koleksi TERA dari TOTO Indonesia maupun di showroom dan agen resminya di berbagai kota.

Bagikan Artikel

Komentar

Komentar (0)